Dua Hari di Pulau Pari, ada Resah, Lucu, Gembira dan Menegangkan

Advertisement

Sabtu pagi cuaca Ibukota Jakarta begitu cerah. Keadaaan ini menjadikan Pelabuhan Kaliadem begitu ramai oleh orang-orang yang ingin menyeberang. Kebanyakan dari mereka adalah para traveler yang ingin berwisata ke sejumlah pulau di Kepulauan seribu.

Tak terkecuali dengan saya bersama teman-teman sekantor. Pada hari itu juga berencana mengisi hari libur akhir pekan di Pulau Pari. Setelah beberapa bulan sebelumnya mengunjungi Pulau Tidung.

gazebo di pantai perawan

Sekitar pukul 08.00 pagi gemuruh suara mesin kapal mulai terdengar. Tampak beberapa awak kapal dengan sigap melepas ikatan gulungan tambang dari patok besi. Sementara awak lain sibuk merapikan pelampung yang berserakan di antara deretan bangku-bangku penumpang. Perlahan-lahan kapal itu bergerak meninggalkan dermaga Pelabuhan Kaliadem.

Diperkirakan kapal kayu tradional itu membawa sekitar 150 penumpang. Para penumpang itu menempati ruangan bagian bawah dan atas. Tetapi di ruang atas lebih banyak peminatnya ketimbang di bawah. Mungkin di atas dapat melihat pemandangan bebas ke laut lepas sambil merasakan sensasi tiupan angin laut.


“Kreket,...kreket..., kadang terdengar suara gesekan tiang kayu menahan beban dan goncangan ombak. Kapal sarat penumpang itu perlahan tapi pasti melaju dan semakin menjauh.

Setelah kapal menempuh sekitar setengah jam perjalanan. Ada pemandangan tak sedap. Kami melihat banyak sampah-sampah berserakan ngambang mencemari laut. Kebanyakan sampah plastik itu terbawa arus laut. Sangat menyedihkan.


Sekedar diketahui, menurut beberapa sumber. Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai  262,9 juta ton. Berada di urutan ketiga Filipina yang menghasilkan sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam yang mencapai 55,9 juta ton, dan Sri Lanka mencapai 14,6 juta ton per tahun.


Kira-kira dua jam perjalanan, kapal yang kami tumpangi tiba di dermaga Pulau Pari. Dengan tertib para penumpang turun dari kapal. Disambut para pedagang kecil yang menjajakan makanan, berjejer di bawah pohon-pohon cemara.

Sebagai salah satu destinasi wisata favorit di kepulauan seribu. Suasana pelabuhan begitu ramai. Hilir mudik dan lalu-lalang para wisatawan menjadi bukti bahwa daya tarik wisata pulau Pari cukup menarik untuk dikunjungi.  Denyut kampung wisata bahari sangat terasa sekali.


Diantar Daeng, pemandu yang akan menemani kami selama di Pulau Pari. Dengan ramah ia mengantar kami menuju homestay. Hanya sekitar tiga menit kami tiba di penginapan. Terlihat 11 sepeda berwarna merah pink parkir berderet rapi di depan homestay.

Sebuah rumah tinggal dengan tiga kamar tidur disulap menjadi homestay. Fasilitas ada TV, AC, kulkas, kasur dan juga dispenser. Penginapan sederhana dan terjangkau cukup menyenangkan. Saya dan teman-teman akhirnya bisa istirahat, sambil menikmati suasana perkampungan di pulau itu.


Karena pada hari itu cuaca begitu baik. Tidak ingin membuang-buang waktu. Selesai istirahat dan makan siang, teman-teman sepakat untuk melakukan snorkeling pada hari juga.

Setelah masing-masing mendapat peralatan snorkeling dan sedikit mendapat pengarahan dari pemandu. Sekitar pukul 14.00, perahu itu membawa rombongan kami menuju lokasi. Terlihat teman-teman begitu antusias sepertinya ingin cepat-cepat merasakan sensasi snorkeling.


Panik Karena “Teror” Bulu Babi
Tiba di lokasi snorkeling. Kegembiraan terpancar di rona wajah teman-teman. Setelah posisi perahu aman, tanpa dikomando teman-teman langsung menceburkan diri. Tetapi ada juga yang ragu atau takut-takut nyebur ke laut.

Baru beberapa menit berenang. Kami dikejutkan oleh salah satu teman, Alfa  kakinya kram sehingga kesulitan berenang. Sementara arus laut semakin membawanya ke tengah. Tetapi kejadian itu dapat teratasi dan tidak berlangsung lama kami pun dapat melanjutkan bersnorkeling kembali.


Semakin siang terik matahari terasa semakin menyengat. Tapi itu bukan suatu halangan buat kami. Teman-teman begitu bergembira dan bersuka cita.  Kami tetap bersemangat menikmati wisata bahari di laut Pulau Pari. Menikmati panorama bawah laut. Melihat tarian ikan-ikan berwarna-warni di sela-sela batu karang yang cantik dan masih alami.

Ketika sedang seru-serunya kami snorkeling, eh ada kejadian lucu dan menegangkan. Tiba-tiba. “Aduhhh....., saya kena tusuk bulu babi nih, teriak Aja Alzuhri. Rupanya salah satu teman mendapat “serangan” bulu babi. Sedikit panik, sambil berenang Aja berusaha naik kembali ke atas perahu. “Baaang... cepat tolongin dong,” teriaknya sambil memegang kaki kanannya.


Lucunya, yang lain panik. Sebaliknya Ditia, salah satu teman perempuan malah bersuka cita. Ia bersorak kegirangan, karena sudah berhasil memenuhi ambisinya. Dapat berenang hingga menyelam ke dasar laut, sambil asyik berfoto ria di karang laut. Padahal ia sama sekali belum bisa berenang.

Begitu pun Daeng dan si Abang perahu yang diminta pertolongan malah santai. Memang saat itu mereka sedang mendampingi Ditia berenang. Sepertinya mereka sudah biasa menghadapi kejadian tertusuk bulu babi. Berbeda dengan kami kejadian itu membuat panik. Disebabkan kurang mempunyai pemahaman dalam mengatasi sengatan bulu babi di laut.

(baca Tips: Cara Tradisional Mengatasi Tertusuk Bulu Babi atau Landak Laut)


Tak urung, Daeng akhirnya turun tangan juga. Kaki yang tertusuk itu hanya cukup dipukul-pukul saja. Apa yang terjadi? Aja, pria lajang itu yang tadinya tegang bisa tersenyum lagi. Walaupun ada ‘ketegangan’  dan kelucuan, kegiatan snorkeling pada hari itu buat kami benar-benar menyenangkan. Setelah senorkeling dirasa cukup, kami memutuskan pulang ke penginapan.

Setelah bersih-bersih badan, kami langsung jalan-jalan santai ke Pantai Bintang dan kawasan Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI. Kedua lokasi ini berada di sebelah barat Pulau Pari. Dari tempat ini dapat melihat terbenamnya matahari, alias sunset.


Berkanoria di Hutan Bakau
Hari kedua di Pulau Pari. Selesai menjalankan ibadah shalat Subuh kami langsung mengayuh sepeda menuju dermaga. Walaupun suasana masih agak gelap, kami mencoba mencari suasana lain. Boleh jadi dari dermaga itu menjadi tempat ideal untuk berburu kemunculan sang surya. Soalnya banyak wisatawan yang sudah lebih dulu nongkrong di pinggiran pantai.

Banyaknya pohon pinus di antara sorot remang-remang cahaya lampu-lampu penerang menjadi pelengkap panorama yang menarik. Sayang kemunculan sunrise pagi itu tidak sesuai harapan. Awan hitam sedikit menutup kemunculan sang surya. Walaupun demikian kami masih bisa melihat penomena awan berwarna kuning keemasan. Dipadu gradasi bias cahaya di antara riak gelombang air laut.


Sekitar pukul 07.00 kami pulang untuk sarapan. Beres sarapan, kemudian kayuhan sepeda dilanjutkan menuju pantai sebelah barat. Banyak orang menyebutnya Pantai Perawan. Pantas saja berjuluk Pantai Perawan, karena pantai itu cukup terjaga dan memang spotnya cukup menarik. Pantainya yang landai dan dangkal dengan pasir putuh halus. Air laut tenang dan bening sangat nyaman untuk berenang. Tak heran pantai ini menjadi favorit wisatawan.

Di Pantai Perawan itu kami mencoba menjelajah hutan mangrove. Kami berkano ria, seperti menyurusi sebuah labirin. Menikmati panorama hijau dan rimbunnya pohon bakau serta akar-akar melintang. Spot ini cukup menarik, cocok untuk berfoto. Sayang kami tidak cukup waktu untuk berlama-lama. Sebab sekitar pukul 10.00 kami harus segera meninggalkan Pulau Pari.

Selama dua hari di pulau seluas 40,32 hektar itu, kami cukup bisa menikmati. Tetapi ada yang membuat penasaran, adalah coretan dinding. Kami melihat beberapa coretan dinding di beberapa sudut kampung. Sepertinya di balik pesona Pulau Pari, ada resah warga penduduk pulau itu.


“Berikan Hak legalitas atas Tanah Warga Pulau Pari”. Demikian bunyi tulisan itu. Ternyata tulisan-tulisan itu sebagai bentuk protes warga Pulau Pari terhadap adanya penerbitan sertifikat kepemilikan atas nama sebuah perusahaan. 

Penerbitan sertifikat itu dianggap oleh warga setempat akan mengancam kehidupan mereka. Terlepas dari persoalan yang dihadapi warga, kami turut berempati. Semoga permasalahan itu dapat diselesaikan sebaik-baiknya.

Sekitar pukul 10.00, saya dan teman-teman meninggalkan Pulau Pari. Kapal kayu tradional itu pun membawa kami kembali menuju Jakarta. Dengan membawa cerita yang tak terlupakan. Sekaligus menyimpan asa di kemudian hari kami bisa menjelajah pulau lain di negeri ini. Mudah-mudahan!


Foto: Sanudd, Aja, Mhenk, Ditia


0 komentar:

Post a Comment